Memotivasi Karyawan

Motivasi adalah suatu hal yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Orang termotivasi untuk melakukan segala hal yang mereka percaya sebagai minat utama mereka. Dari perspektif manajemen, sebaiknya menggarisbawahi pernyataan berikut: anda tidak dapat memotivasi orang lain, anda hanya dapat mempengaruhi apa yang menjadi motivasi mereka. Sebagai manajer, tidaklah mungkin tidak mempengaruhi motivasi karyawan, baik dengan dampak yang baik ataupun buruk bagi organisasi. Pertanyaan yang perlu dipikirkan oleh manajer adalah: “Apakah saya mempengaruhi motivasi karyawan secara negatif atau positif?”

Ada konsep motivasi yang terdiri dari dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi minat pribadi, hasrat dan pemenuhan keinginan. Sedangkan faktor ekstrinsik meliputi pujian dari orang lain, promosi jabatan, dan penghargaan. Namun, bagaimanapun juga motivasi sangat besar pengaruhnya dari faktor intrinsik, yaitu yang berasal dari dalam diri sendiri.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh seorang manajer untuk memahami motivasi intrinsik, yang disebut 3Cs, yaitu:

  1. Collaboration - kolaborasi. Orang merasa lebih termotivasi untuk bekerja lebih keras, apabila mereka terinspirasi untuk bekerja sama, apabila mereka mempunyai kesempatan untuk saling membantu untuk sukses.
  2. Content – isi. Orang merasa lebih termotivasi untuk bekerja apabila mereka mengetahui bahwa apa yang mereka kerjakan mempunyai nilai yang sangat besar bagi organisasi, dan memberikan kontribusi bagi lingkungan kerjanya.
  3. Choice – pilihan. Orang merasa lebih termotivasi untuk bekerja apabila mereka merasa berdaya untuk membuat keputusan atas pekerjaannya.

Tiga cara yang umum dilakukan untuk mempengaruhi motivasi, antara lain:

  1. Motivasi karena rasa takut
  2. Motivasi karena insentif
  3. Motivasi karena pengembangan personal

Dari ketiga cara tersebut, cara ketigalah yang paling baik untuk mempengaruhi motivasi karyawan.

Kadangkala manajer tidak dapat memahami karyawannya. Hal ini wajar saja sering terjadi, karena manajer berhadapan dengan manusia. Sebagai pemimpin di organisasi, manajer harus memahami sifat dan perilaku manusia.

Berdasarkan Teori X dan Y oleh Douglas McGregor, tipe orang dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Orang tipe X, yaitu:

  • Bekerja adalah sesuatu yang tidak menyenangkan
  • Rata-rata karyawan malas dan tidak mempunyai ambisi
  • Karyawan harus lebih disupervisi lebih ketat
  • Rata-rata karyawan menghindari tanggungjawab
  • Insentif yang paling diinginkan adalah uang
  • Karyawan harus dipaksa untuk mencapai tujuan organisasi

2. Orang tipe Y, yaitu:

  • Bekerja adalah suatu yang menyenangkan
  • Bekerja seperti bermain
  • Pengakuan dan pencapaian prestasi sama pentingnya dengan uang
  • Karyawan berkomitmen dengan pekerjaannya
  • Karyawan pada semua level akan menunjukkan kreativitas dan

Berdasarkan Teori X dan Y oleh Douglas McGregor, gaya manajemen dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Manajer berorientasi pada kontrol (pendekatan teori X)

  • Membuat keputusan tanpa masukan dari yang lain
  • Memelihara kekuasaan
  • Percaya diri dengan pendapatnya sendiri
  • Berorientasi pada tujuan dan kadang-kadang menuntut
  • Biasanya menggunakan tekanan untuk mencapai tujuan
  • Disiplin terhadap karyawan yang tidak bekerja dengan benar
  • Bertindak secara meyakinkan dan dapat berkonfrontasi dengan kinerja yang buruk
  • Tidak mengharapkan kritik dari tim

2. Manajer berorientasi pada pemberdayaan (pendekatan teori Y)

  • Membuat keputusan berdasarkan keputusan bersama dan membantu yang lain untuk merasa memiliki
  • Mendorong kreativitas dan insiatif
  • Mendampingi yang lain dan memfasilitasi kerja yang lain secara efektif
  • Memimpin dengan memberi contoh
  • Memberi penghargaan atas kinerja yang baik
  • Membantu orang berkembang dalam pekerjaannya dan mencapai lebih banyak tanggungjawab
  • Menghargai dan mendorong adanya kerja tim

Apabila anda menerapkan gaya manajemen X, maka anda secara tidak sadar akan menciptakan karyawan dan lingkungan kerja yang sama dengan tipe orang X. Begitu juga sebaliknya.

Hal ini juga didukung dengan adanya Efek Pygmalion. Efek Pygmalion bukan sekadar mitos.  Pada intinya, orang yang diberikan kepercayaan tentang hal yang positif, maka dia akan melakukan hal yang sesuai dengan yang dia yakini. Begitu pula sebaliknya.

Setelah memahami tipe sifat dasar manusia sesuai teori X dan Y dari McGregor, anda juga harus memahami alasan dari perilaku seseorang. Hal ini dapat dipelajari melalui teori motivasi dari Abraham Maslow. Teori ini mengemukakan bahwa motivasi seseorang dipengaruhi oleh kebutuhan orang tersebut. Ada lima jenjang kebutuhan pada teori Maslow ini, yaitu: kebutuhan fisik, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan ego (status dan pengakuan) dan, yang terakhir, kebutuhan aktualisasi diri.

Tantangan bagi manajer setelah mengetahui teori Maslow ini adalah bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Sehingga sebagai manajer, anda harus memanfaatkan teori ini sebagai panduan untuk mempengaruhi motivasi karyawan.

Cara mengidentifikasi kebutuhan karyawan:

  • Perhatikan karyawan melakukan pekerjaannya. Cari tahu apa yang membuat mereka bersemangat atau sebaliknya. Berikan kesempatan untuk menggunakan cara mereka asalkan sesuai dan dapat menyelesaikan pekerjaan
  • Adakan brainstorming/FGD untuk mendapatkan ide tentang apa yang mereka sukai dari pekerjaannya
  • Perhatikan bahwa setiap orang unik. Oleh karena itu ada bakat dan keahlian yang special pada setiap orang
  • Buat survey karyawan mengenai lingkungan kerja dan sarannya untuk peningkatan
  • Wawancara karyawan yang mengundurkan diri untuk kemudian menciptakan suasana kerja yang membuat karyawan nyaman dan betah

Asumsikan pengembangan personal dan pengakuan, kreativitas dan pekerjaan yang bermakna sama pentingnya dengan anggapan anda mengenai hal tersebut

Hal lain yang dapat mempengaruhi peningkatan motivasi karyawan adalah perasaan memiliki organisasi. Karyawan perlu mempunyai perasaan memiliki organisasi dan seperti partner bisnis anda. Oleh karena itu perlu dikembangkan pola pikir entrepreneur (entrepreneurial mindset). Langkah-langkah untuk mencapai entrepreneurial mindset, antara lain :

1. Jelaskan mengenai organisasi – bisa dari artikel-artikel mengenai organisasi, laporan tahunan, visi misi. Kemudian dorong mereka untuk mengidentifikasi apa yang bisa mereka lakukan.

2. Demonstrasikan bagaimana organisasi beroperasi dan menghasilkan pendapatan – bisa berasal dari pelatihan dasar bisnis, berikan perencanaan strategik dan filosofi organisasi. Gambarkan pula skenario bagaimana satu karyawan mempunyai pengaruh terhadap organisasi.

3. Bantu karyawan untuk memahami kompetisi – tidak semua hal mengenai kompetitor patut disampaikan pada karyawan, misalnya tentang insentif di organisasi pesaing, kecuali organisasi anda telah menyiapkan rencana spesifik untuk membuat organisasi anda sebagai tempat kerja yang nyaman yang mampu membuat mereka bermotivasi tinggi lebih daripada sekadar insentif.

4. Dorong untuk berani mengambil resiko secara pintar – bukan mengambil resiko yang bodoh

5. Inspirasikan berpikir inovatif – bisa menggunakan cara yang umum, seperti brainstorming, sampai menciptakan suasana kerja yang nyaman menggunakan musik.

Reference: Bruce, Anne and Pepitone, James S. 1999. Motivating Employees. McGraw-Hill: New York

Juni 16, 2008. Tag: , . Uncategorized.

Belum Ada Tanggapan

Jadilah yang pertama untuk berkomentar!

Tinggalkan Balasan

Trackback URI